Jumat, 09 Maret 2012

LAPORAN PPL DI UNIVERSITY OF QUEENSLAND


ANALISA HASIL
PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN
DI UNIVERSITAS QUEENSLAND BRISBANE AUSTRALIA




DOSEN PEMBIMBING
Prof. Dr.  Muh. Dimyati, MPd
Prof. Dr. Moh. Efendi, MPd, MKes
Dr.  Sulton, MPd





DISUSUN OLEH
Hariyatun
NIM 100121508075









I.     TEORI PEMBELAJARAN DENGAN METODE CONTENT AND LANGUAGE INTEGRATED LEARNING (CLIL)

Metode CLIL didasari oleh teori psikologi Vygotsky. Vygotsky menekankan bagaimana proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran melibatkan pembelajaran menggunakan temuan-temuan masyarakat seperti bahasa, sistem matematika, dan alat-alat ingatan. Ia juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan bimbingan dari orang-orang yang sudah terampil di dalam bidang-bidang tersebut.
Vygotsky lebih banyak menekankan peranan orang dewasa dan anak-anak lain dalam memudahkan perkembangan si anak. Scaffolding merupakan suatu istilah yang ditemukan oleh seorang ahli psikologi perkembangan-kognitif masa kini, Jerome Bruner, yakni suatu proses yang digunakan orang dewasa untuk menuntun anak-anak melalui zona perkembangan proksimalnya. Scaffolding merupakan cara untuk menjembatani siswa yang mampu tanpa bantuan dan siswa yang mampu dengan bantuan. Guru harus secara aktif mendampingi setiap kegiatan anak-anak. Dalam istilah teoritis, ini berarti anak-anak bekerja dalam zona perkembangan proksimal dan guru menyediakan scaffolding bagi anak selama melalui  ZPD.
Secara khusus Vygotsky mengemukakan bahwa disamping guru, teman sebaya juga berpengaruh penting pada perkembangan kognitif anak.berlawanan dengan pembelajaran lewat penemuan individu (individual discovery learning), kerja kelompok secara kooperatif ( cooperative groupwork) tampaknya mempercepat perkembangan anak.
Gagasan tentang kelompok kerja kreatif ini diperluas menjadi pengajaran pribadi oleh teman sebaya ( peer tutoring), yaitu seorang anak mengajari anak lainnya yang agak tertinggal dalam pelajaran.
Matriks CLIL merupakan hasil kerja Cummin (1984) yang merupakan alat yang digunakan untuk mengukur dan menganalisa hubungan tugas dengan tingkat kognitif dan bahan ajar.


II.       PELAKSANAAN PEMBELAJARAN CLIL DI UQ

Program pengembangan kemampuan mengajar terutama ditujukan untuk mengajar materi pertanian dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.  Materi yang diberikan adalah metode CLIL, yang memetakan kemampuan siswa dalam bahasa dan kognitif sehingga bisa diberikan proses pembelajaran yang paling sesuai.
Pembelajaran diberikan dengan materi kosa kata baru dalam bidang pertanian untuk meningkatkan penguasaan bahasa Inggris peserta. Disamping itu juga diberikan berbagai instruksi dalam bahasa Inggris. Peserta dilibatkan aktif dalam proses pembelajaran.
Dianjurkan penggunaan dwi bahasa hanya diijinkan untuk pertama kali suatu kata diperkenalkan ke siswa . Penggunaan bahasa sederhana dan penggunaan gambar berguna untuk peningkatan pemahaman siswa.
Praktek mengajar dilakukan dengan metode peer teaching. Peserta saling bergantian menjadi pembelajar dan pebelajar. Pembelajaran dilakukan dalam bahasa Inggris dan secara berkelompok.
Dalam pembelajaran ilmu pertanian menggunakan bahasa Inggris ada hal yang menjadi permasalahan, yaitu:
a.    Tingkat kemampuan bahasa  Inggris siswa lebih rendah daripada tingkat kemampuan guru
b.    Kemampuan bahasa Inggris siswa tidak merata, ada yang tinggi ada yang rendah
c.    Kemampuan bahasa Inggris siswa dibawah kemampuan kognitif nya
d.   Siswa perlu dukungan untuk selalu menggunakan bahasa Inggris
e.    Kadang kadang siswa bosan dikelas
f.     Kadang siswa merasa tugas yang harus dikerjakan terlalu sulit
Dalam kelas CLIL tingkat kemampuan bahasa inggris diharapkan  akan sama dengan tingkat kognitif siswa. Perbedaan ini akan menyulitkan karena jika mengikuti tingkat kemampuan bahasanya, pembelajaran terhambat. Apabila mengikuti level kognitifnya, siswa akan kesulitan.
Menurut Smith dan Paterson, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa sangat berpengaruh terhadap hasil belajar. Guru harus menggunakan bahasa yang sesuai. Tantangan bagi guru CLIL adalah mengembangkan lingkungan belajar yang bisa dipahami  bahasanya tetapi secara kognitif juga sesuai dengan kemampuan siswanya.
Pada kuadran 1 guru memberikan tugas yang level kognitif dan level bahasanya rendah. Pada level 2 guru memberikan tugas level kognitif tinggi tetapi bahasa sederhana. Dan pada kuadran 3, guru memberi tugas dengan level yang sama tinggi untuk bahasa dan kognitif.
Untuk melakukan pembelajaran tersebut, seharusnya dilakukan secara bertahap. Untuk anak SPP yang level kognitifnya lebih tinggi dibandingkan penguasaan bahasanya, maka kuadran 1 berarti tidak ada tantangan bagi siswa. Oleh karena itu guru lebih baik memberi tugas B dan C yaitu yang berada di kuadran dua. Jadi siswa mampu mengerjakan tetapi juga tidak bosan.  Apabila siswa telah naik kemampuan bahasanya, maka guru bisa menggunakan tugas D dimana penyelesaiannya memerlukan level kemampuan bahasa dan kognitif yang sama sama tinggi.
Penggunaan gambar untuk menjelaskan konsep juga sangat membantu untuk kelas CLIL. Kalimat yang sederhana diberikan untuk menjelaskan gambar. 
Metode CLIL ini bisa diterapkan bagi lembaga pendidikan yang akan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar sebenarnya bukan keharusan bagi lembaga pendidikan tetapi bisa menjadi nilai lebih. Hal ini karena kemampuan bahasa Inggris seringkali diperlukan untuk pekerjaan tertentu.
Dengan praktek mengajar dalam bahasa Inggris, peserta terpacu untuk menunjukkan kemampuan bahasa Inggrisnya.

III.             KESIMPULAN
Secara teori kelas CLIL akan lebih mudah bila relevan dengan budaya, pembelajarannya berkelompok, dan akan lebih optimal bila ada dukungan dari lingkungan.  Biasanya kelas CLIL memerlukan team teaching yang berasal dari guru bahasa Inggris dan guru mata pelajaran. 

Arends, R.I. 2001. Learning to Teach. Edisi ketujuh .Terjemahan. Pustaka Pelajar.

Slavin, R.E. 2006.  Psikologi Pendidikan Teori dan Praktek. Edisi kedelapan. Terjemahan oleh Samosir, M. Allyn and Bacon. Boston.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar