Minggu, 05 Agustus 2012

PENGOLAHAN JERAMI


Pakan kasar masih menjadi pakan utama ternak ruminansia di Indonesia.  Salah satu pakan kasar yang tersedia melimpah adalah jerami, terutama jerami padi.  Hal ini karena jerami padi merupakan limbah pertanian tanaman pangan sebagian besar penduduk Indonesia.
Produksi jerami padi dapat mencapai 12-15 ton/hektar tiap panen tergantung lokasi dan varietasnya. Jerami ini bisa digunakan untuk pakan kasar 2-3 ekor sapi dewasa sepanjang tahun.
Penggunaan jerami untuk pakan baru berkisar 31-39% dan 7-16% untuk industri.Dari keseluruhan produksi jerami, sebagian besar masih dibakar dan dikembalikan ke tanah.  Efek negatif dari pembakaran adalah polusi lingkungan, mempengaruhi ekologi tanah dan hilangnya bahan organik
Komposisi kimia jerami padi meliputi bahan kering 71,2%, protein kasar 3,9%, lemak kasar 1,8%, serat kasar 28,8%, BETN 37,1% dan TDN 40,2%.  Kandungan lignin jerami berkisar 6-7% dan silikatnya 13%. Ternak yang hanya mendapatkan jerami saja sebagai pakannya akan memiliki produktivitas rendah.
Untuk digunakan sebagai pakan, jerami sebaiknya diolah lebih dahulu.  Pengolahan jerami bisa berupa amoniasi, hidrolisis dengan alkali maupun dengan fermentasi menggunakan mikrobia tertentu.
1.  Amoniasi Jerami
a.  Pengertian
Amoniasi merupakan cara pengolahan kimia dengan menggunakan amonia untuk meningkatkan daya cerna bahan pakan berserat sekaligus meningkatkan kadar N (proteinnya).
Amoniasi biasanya dilakukan pada bahan pakan asal limbah pertanian seperti berbagai jenis jerami dan bahkan juga pada kulit kopi, tergantung pada potensi daerahnya.
b. Tujuan
Pembuatan amoniasi bertujuan meningkatkan kualitas jerami yang rendah kandungan nutrisinya, menjadi jerami yang kandungan nutrisinya memadai dan daya cernanya tinggi.
c.      Proses
Jerami merupakan bagian tanaman yang telah tua yang memiliki kandungan lignin dan silikat yang menyebabkan daya cerna ternak ruminansia terhadap jerami rendah.   
Amoniasi jerami padi adalah proses pengolahan jerami padi menggunakan amonia (misalnya urea) sebagai sumber amonia dengan pemeraman pada kondisi anaerob.  Proses ini merubah tekstur jerami menjadi lunak dan rapuh sehingga mudah dicerna. Peningkatan kandungan protein juga terjadi pada jerami amoniasi karena peresapan nitrogen dari urea. Proses ini juga menghilangkan aflatoksin/ jamur dalam jerami.
Amonia dapat menyebabkan perubahan komposisi dan struktur dinding sel sehingga membebaskan ikatan antara lignin dengan selulosa dan hemiselulosa sehingga bisa dicerna oleh mikrobia rumen. Amonia akan terserap dan berikatan dengan gugus asetil dari bahan pakan dan bisa dimanfaatkan oleh mikrobia rumen.
Penggunaan urea dibatasi 4-6% karena pada penggunaan <3% amonia tidak mampu memecah ikatan lignin. Pada penggunaan > 6% amonia akan terbuang karena jerami tidak sanggup menyerapnya jadi secara ekonomi tidak menguntungkan.

Proses amoniasi bisa dilakukan dengan cara basah dan cara kering. Proses dengan cara basah menggunakan larutan urea sedangkan cara kering urea langsung ditaburkan pada jerami. Dengan cara kering 3-4 kg urea digunakan untuk 100 kg jerami. Pada pembuatan skala besar, jerami dimampatkan kotak kotak cetakan . Selanjutnya jerami dimasukkan dalam wadahnya (sejenis dengan silo) sambil ditaburi urea atau larutannya.
Penggunaan urea didasari pertimbangan ekonomis dan juga lebih ramah lingkungan.  Sebenarnya sumber amonia lain seperti gas amonia bisa digunakan. Disini jerami yang telah dimasukkan ke dalam wadah tertutup disemprot dengan gas amonia.
d.     Kualitas
Untuk menghasilkan jerami amoniasi yang berkualitas, maka dibutuhkan bahan yang berkualitas pula. Bahan dasar dari pembuatan jerami amoniasi ini adalah jerami padi yang tersisa setelah pemanenan. Jerami padi yang akan diamoniasi harus memenuhi beberapa kriteria yaitu jerami harus dalam kondisi kering, tidak boleh terendam air sawah atau pun air hujan, dan harus dalam keadaan baik (tidak busuk atau rusak).
Jerami yang telah diamoniasi memiliki tekstur lunak dan rapuh, berwarna coklat tua, berbau amonia dan tidak berjamur.  Jika dilakukan analisa proksimat maka kandungan protein kasarnya lebih dari 6%.

e.      Penggunaan
Hasil amoniasi harus diangin-anginkan terlebih dahulu sebelum diberikan pada ternak.  Tujuannya adalah untuk menghilangkan amoniak dalam jerami. Untuk disimpan dalam jangka waktu yang lama, jerami amoniasi harus dijemur atau dikeringkan 2-3 hari. Setelah kering jerami dapat disimpan dibawah tempat teduh atau atap. Jangan sampai terkena air hujan karena akan mengakibatkan pembusukkan. Jerami yang sudah kering dapat disimpan selama selama 6 – 12 bulan tanpa penurunan kualitas.
Bila cuaca tidak memungkinkan untuk penjemuran, jerami amoniasi tidak perlu dikeluarkan dari wadahnya.  Keluarkan sesuai kebutuhan dan angin anginkan sebelum diberikan pada ternak.
Jerami amoniasi merupakan pakan yang miskin mineral.  Ada baiknya pemberiannya disertai dengan pemberian mineral secara teratur.
2. Hidrolisis Jerami
Perlakuan lain untuk memperbaiki kualitas jerami dilakukan dengan hidrolisis  dengan larutan basa.  Larutan basa bisa dibuat dengan NaOH atau CaO.
Apabila jerami direndam dalam larutan alkali, maka ikatan antara lignin dan selulosa dan hemiselulosa dinding sel akan terhidrolisa sehingga karbohidrat akan lebih tersedia bagi microorganisme dalam rumen. Perlakuan dengan alkali juga meningkatkan tingkat konsumsi.
Awalnya proses ini dilakukan di Jerman saat perang dunia I, jerami direndam selama 1 hingga 2 hari dalam larutan NaOH (kaustik soda/soda api) 15-30 g/l dan kemudian dicuci untuk menghilangkan residu alkalinya.
Proses ini meningkatkan daya cerna jerami tetapi sebagian nutrien larut saat pencucian. Kemudian dikembangkan metode kering dengan kandungan NaOH 10-40g/l. Daya cerna jerami meningkat, dari 0,4 menjadi 0,5-0,7.
Alkali lain yang juga efisiennya adalah kapur ( CaO 60% dan MgO 1.3%).  Kapur sebanyak 40 gram dilarutkan dalam 10 liter air digunakan untuk merendam 1 kg jerami selama kurang lebih 48 jam (2 hari). Kemudian jerami dicuci dengan 5 liter air dan dikeringkan dengan sinar matahari. Hasil penelitian Saadullah dkk (1981) ini meningkatkan kecernaan bahan kering jerami dari 38 menjadi 49%. Jika pemberiannya pada domba disertai 10% molasses dan 2% urea dalam ransum, maka kecernaan ransum menjadi 54%.
3.  Fermentasi Jerami
Selain proses kimia, degradasi ikatan kimia pada jerami juga bisa dilakukan dengan fermentasi.  Fermentasi adalah suatu cara pengawetan yang menggunakan mikrobia tertentu untuk menghasilkan asam atau komponen lainnya yang dapat menghambat mikrobia perusak lainnya.
Cara melakukan fermentasi adalah dengan menambahkan bahan yang mengandung mikrobia proteolitik, lignolitik, selulolitik, lipolitik dan bersifat fiksasi nitrogen non simbiotik.  Mikrobia tersebut kita kenal dengan sebutan probiotik. Campuran berbagai mikro organisme tersebut berguna untuk mempercepat proses pemecahan serat jerami padi, sehingga mudah dicerna oleh ternak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jerami yang telah difermentasi dengan mikrobia secara umum menunjukkan peningkatan kualitas.  Protein meningkat dari 4,23% menjadi 8,14% dan juga disertai penurunan serat kasar.

Pembuatan fermentasi jerami dilakukan pada tempat yang terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung. Dimana untuk kapasitas 10 ton dapat dibuat bangunan dengan ukuran 4 x 5 m. Lantai dasar dapat dibuat dari semen atau tanah yang dipadatkan dan ditinggikan dari tempat sekitarnya, tanpa dinding. Bahan bangunan menggunakan kayu atau bambu. Untuk atap dapat berupa seng atau bahan yang tersedia di tempat. Jarak lantai ke atap 3 m.
Hasil fermentasi jerami yang baik ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
Ø  Baunya khas
Ø  Warnanya kuning agak kecoklatan
Ø   Teksturnya lemas(tidak kaku)
Ø   Tidak busuk dan tidak berjamur 

Fermentasi bisa juga dipadukan dengan amoniasi. Starter yang digunakan  urea dan probiotik.
Jerami yang telah difermentasi bisa diberikan sebagai pakan kasar bagi ternak sapi 6-8 kg/ekor/hari  dengan penambahan konsentrat 1% dari berat badan ternak. Hasil penelitian di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa pertambahan berat badan sapi bali yang diberi jerami fermentasi lebih tinggi dibandingkan sapi yang diberi rumput lapangan.
Administrator, 2010.  Fermentasi Jerami untuk Pakan Sapi.  BPPT Sumatera Barat. http://sumbar.litbang.deptan.go.id diunduh 4 Maret 2012

Anonimous, 2012. Determine The Characteristics of Good Silage and The Steps in Producing It.  http://forages.oregonestate.edu/nfgc/eo/onlineforagecurriculum /instructurmaterials/availabletopics/mechaninalharvest/silage

Cullison, A.E. & Lowrey, R. S. 1987.  Feeds and Feeding. Fourth Edition. A Resto Book Prentice Hall. Englewood Cliffs.

Drake, D.J. Nader, G., Forero, L. 2011.   Feeding Rice Straw to Cattle. University of California.

 Ensminger, M.E.  1990.  Animal Science. 8th Ed. Interstate Publisher, Inc. Dannville

Kartasudjana, D.  2001. Mengawetkan Hijauan Pakan Ternak. Modul Keahlian Budidaya Ternak. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.

McDonald, P, et al.  1987. Animal Nutrition. Fourth edition. Longman Group,LTd.

Nista, D. dkk. 2007.  Teknologi Pengolahan Pakan: UMB, fermentasi jerami,amoniasi jerami, silage, hay. http://bptu_sembawa.net/VI/data/download/20090816160949.pdf.

Parakkasi, A. 1999.  Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminant.  UI Press. Jakarta.

Saribuang, M dkk. 2000.  Pemanfaatan Probiotik dalam Fermentasi Jerami Sebagai Pakan Sapi Bali Di Musim Kemarau.  Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Gowa. Gowa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar