Minggu, 22 April 2012

PERUBAHAN KURIKULUM DAN IMPLEMENTASI KURIKULUM BARU

PERUBAHAN KURIKULUM DAN IMPLEMENTASI KURIKULUM BARU

Tujuan bab ini adalah memberikan pembacanya beberapa pendekatan untuk mempengaruhi perubahan kurikulum.  Kekuatan dan kelemahan pendekatan ditunjukkan. Perbedaan antara menggambarkan bagaimana perubahan terjadi dan menentukan bagaimana kurikulum dipertahankan.
Bab ini meliputi perspektif sesungguhnya dari persoalan yang serius seperti apakah perubahan kurikulum sebaiknya dimulai dari guru, administrator atau dari anggota anggota komite local, negara bagian atau tingkat federal.
Orang mungkin berpikir bahwa kurikulum yang disusun oleh guru untuk digunakan dikelas mereka sendiri akan menjadi kurikulum yang paling mudah diterapkan. Guru akan paham tujuannya dan memiliki pertimbangan kemungkinan pembelajaran untuk mencapai tujuan itu. Guru mungkin enggan mengembangkan dan menjalankan kurikulum karena beberapa alasan.  Sebagai contoh, mereka mungkin mendapat tentangan untuk mengubah kurikulum dari orang tua siswa, teman sejawat atau kepala sekolah.  Meski kadang tentangan ini tidak ‘eksplisit’ dan hanya berupa penghindaran terhadap inovasi.
Disisi lain, administrator sering merasa tidak berdaya untuk memprakarsai penerapan kurikulum baru, sulit untuk meyakinkan stafnya, hanya sebagian merespon dengan semangat dan melaksanakan perubahan tujuan. Tidak mudah mempengaruhi kelas dalam hal tertentu saat seseorang tidak berada didalam kelas. Meskipun administrator memiliki dana untuk mendorong perkembangan kurikulum hasilnya seringkali tidak signifikan.
Permasalahan tentang siapa yang mengembangkan kurikulum ditingkat nasional juga ada. Yang pertama, bagaimana cara kurikulum diambil. Sulit untuk meniadakan pengaruh politis komite penyusunan buku teks, komisi kurikulum, papan pendidikan dan kelompok kelompok lain hingga kurikulum bisa tersedia bagi guru. Kadang problem yang lebih besar adalah bagaimana produk produk tersebut digunakan secara nyata disekolah.  Studi kelas oleh Goodlad, Klein dan kawan kawan mendapatkan kesimpulan bahwa para praktisi tidak memahami dengan benar gagasan gagasan tentang apa yang diperlukan untuk menjalankan inovasi kurikulum.


A.    Konseptualisasi Proses Perubahan
Kategorisasi perubahan berdasarkan tingkat kesulitan.
Para ilmuwan behavioristik mencoba mengintepretasikan proses perubahan yang ada dalam lima tingkat perubahan.
1.      Subtitusi.  Satu elemen kurikulum bisa menggantikan yang sudah ada sebelumnya. Misalnya mengganti buku teks lama dengan buku baru.
2.      Alterasi.  Alterasi terjadi saat perubahan dengan mengganti materinya, aktivitasnya dll
3.      Perturbation ( ganggguan/kekacauan). Perubahan ini mengganggu tapi guru bisa beradaptasi dengan segera. Misalnya perubahan waktu mengajar atau jadwal.
4.      Perubahan struktur. Perubahan ini dipicu oleh perubahan system.  Misalnya dari kurikulum terpusat menjadi desentralisasi.
5.      Perubahan orientasi nilai. Perubahan yang mendasar pada kurikulum karena perubahan nilai yang diikuti. Misalnya dari kurikulum humanistic menjadi kurikulum berbasis akademik atau kurikulum rekonstruksi social.
Penyusun kurikulum mencari, dari kelima perubahan mana yang diperlukan. Sebelum memperkenalkan perubahan lebih dahulu mereka akan mengklasifikasi tingkat perubahan dan mempelajari kemungkinan kesulitan dan akibatnya.

B.     Studi Sosiologis  Perubahan Kurikulum
Ahli sosiologi  mempelajari stabilitas dan perubahan dalam organisasi. Mereka menemukan bahwa baik chanel komunikasi formal maupun informal adalah fitur perubahan kurikulum. Mereka mengatakan bahwa kebanyakan inovasi kurikulum disekolah adalah ‘pinjaman’ dan bukannya penemuan. ‘Peminjaman’ ini dilakukan dengan peniruan langsung atau mendatangkan personel baru.
Bila menerapkan inovasi guru hanya menerima insentif yang jumlahnya sedikit. Tetapi guru mendapat tentangan dari berbagai pihak yang tidak mendukung suatu inovasi.  Guru juga akan menghabiskan lebih banyak waktunya saat menerapkannya. Jadi lebih nyaman dan aman buat guru untuk mengikuti orang kebanyakan atau menjadi konvensional.
Administrator dipandang oleh ahli sosiologi sebagai ‘orang yang ditengah’ yang memiliki kemungkinan kecil untuk menjadi pemrakarsa perubahan.  Tetapi bukan berarti administrator  tidak punya peran.
Keputusan kurikulum yang ‘paling berpengaruh’ dibuat ditingkat nasional, terutama yang berhubungan dengan pendidikan karir, pendidikan  anak usia dini dan program program multicultural.

C.     Enam Fase Perubahan Kurikulum
Menurut Lippit, ahli psikolgi social yang terkemuka,  ada enam fase perubahan kurikulum, yaitu:
1.      Penggunaan sumber sumber (resources) baru. Pertimbangannya adalah factor dukungan internal dan eksternal pada siswa. Contoh dukungan internal, siswa harus menerima kesempatan pembelajaran yang relevan dengan dunia mereka, nilai, ketertarikan dan rasa ingin tahu mereka. Mereka harus mendapat umpan balik dari respon mereka. Mereka harus belajar bagaimana cara belajar dan menyenangi pencarian (penelitiannya) dan pengakhirannya. Pengembang kurikulum juga harus memperhitungkan peran teman sebaya sebagai factor eksternal siswa.
2.      Presentasi  sumber sumber baru
Penyusun kurikulum seharusnya melibatkan guru dalam mengkaji ulang, mengevaluasi dan mengeksplorasi relevansi materi baru. Guru juga seharusnya diberi kebebasan untuk mengeksplorasi kecakapan baru yang diperlukan untuk mempelajari konsep dan teknik baru dan berkolaborasi dengan perguruan tinggi baik dalam latihan maupun belajar bersama. Kurikulum yang baru juga harus melengkapi guru dengan alat untuk mendiagnosa respon kelas mereka dan untuk melibatkan siswa dalam mengadaptasi kurikulum dan menciptakan prosedur prosedur baru.
3.      Adopsi sumber sumber baru. Keputusan adopsi oleh komite kurikulum sebaiknya melibatkan pengambil keputusan yang tepat dalam mengkaji ulang alternative alternative yang ada. Harus ada kajian terhadap criteria yang digunakan dalam pembuatan keputusan dan rencana alternative alternative tes, mempertimbangkan kemungkinan yang akan terjadi dan mempelajari respon pebelajar terhadap metode yang digunakan. Pebelajar sebaiknya dilibatkan dalam evaluasi materi baru.
4.      Penyelidikan sumber sumber baru. Dalam penelitian untuk mendapatkan gagasan gagasan baru, perencana kurikulum sebaiknya memulainya dari ‘rumah’. Mereka sebaiknya mereka menghargai kurikulum kurikulum kreatif yang ‘tersembunyi’ di daerahnya. Perencana sebaiknya juga mempertimbangkan neighboring school system (system yang ada di lingkungan sekitar sekolah). Mereka sebaiknya menyelesaikan masalah (rintangan) dengan sharing dengan lingkungannya. Penyusun kurikulum juga sebaiknya melihat sumber sumber alam yang ada.
5.      Distribusi sumber sumber baru. Difusi kurikulum juga bergantung pada tersedianya sumber sumber belajar bagi guru. Guru harus memiliki kesempatan untuk mencapai kecakapan menggunakan kurikulum baru. Mereka juga seharusnya memiliki kesempatan mencoba agar tertarik dan merasa bebas untuk mengadaptasi bahan.
6.      Pengembangan sumber sumber baru . Materi baru  bisa dikembangkan oleh seluruh tim dalam sekolah, ide kreatif seorang guru atau staf proyek penelitian dan pengembangan. Pengembangan kurikulum memerlukan  indentifikasi tujuan yang diprioritaskan , inti pengetahuan, pengalaman yang terkait dengan isi, ketertarikan dan kompetensi pebelajar. Guru seharusnya dibantu untuk memahami dan menggunakan sumber sumber  dan mengevaluasi bahan dengan trampil sehingga kurikulum mengalami peningkatan secara kontinyu.

D.    Strategi Deskriptif Perubahan
Model model yang menggambarkan bagaimana perubahan kurikulum yang terbaik di sekolah sering kali bertentangan satu sama lain. Model riset dan pengembangan  (R dan D), misalnya, menggambarkan proses perubahan sebagai proses dari atas ke bawah, sedangkan model pengembangan integrative mengawali  dengan problem seorang guru dan kemudian ke seluruh system sekolah. Ada bagian yang benar dari setiap model dan kita bisa beruntung memahami semua.   
Model adopsi atau model R dan D
Model R dan D telah populer di seluruh wilayah dan negara, karena model ini menggambarkan proses pengembangan dan sekaligus penyebarannya.  Model ini menggunakan program, riset dan proyek pengembangan dari universitas, laboratorium regional dan institusi institusi lain untuk mengembangkan paket bahan bahan yang inovatif. Kemudian produknya di desiminasi ke populasi yang luas. Untuk mengefektifan difusi diperlukan kesadaran pengguna akan manfaat dan kegunaan produk. Model ini memerlukan fasilitator yang berperan seperti ‘penjual’ dan melatih personel sekolah. Inovator bersama pimpinan sekolah memonitor dan membantu jika ada masalah selama penerapan kurikulum.
Kritik persuasive diberikan bagi model ini karena ada yang menganggap tidak spesifik dasarnya dan dipengaruhi oleh factor factor politis.  Pengembang model ini nampaknya memiliki asumsi bahwa komunikasi yang baik akan cukup. Model ini juga dianggap tidak jelas dan terlalu optimis pada peran fasilitator.
Model pengembangan integrative
Strategi dalam model pengembangan integrative  diawali dengan  gurunya kemudian kelas dan mungkin juga ke seluruh system sekolah. Kesulitan pendekatan ini adalah pada waktu dan kurang kahlian untuk menangani prosedur hubungan manusia dan menghubungkan teori pada masalah yang dipilih. Mengubah sikap dan kecakapan guru memerlukan waktu. Membangun sikap sebagai peneliti awalnya lambat. Dan ada guru yang merasa gelisah untuk terikat dalam kelompok penyelesai masalah.
Model agen perubahan
Tidak adanya agen yang memicu perubahan telah lama dipikirkan menjadi factor lambatnya adopsi inovasi di sekolah. Dunia pendidikan mencatat temuan kesuksesan penyuluh pertanian dalam menjadi agen perubahan untuk mempengaruhi petani agar memperbaiki praktek bertaninya sesuai perkembangan teknologi.  Ide untuk membentuk profesi serupa untuk pendidikan telah sering muncul. Tetapi dunia pendidikan tidak seperti pertanian, kesehatan atau dinas pemerintah lainnya.
Banyak perbedaan pendapat muncul tentang siapa yang seharusnya jadi agen perubahan dalam implementasi kurikulum.  Beberapa berpendapat bahwa kepala sekolah pantas memerankannya karena memiliki otoritas di sekolah. Guru juga bisa menjadi agen perubahan dengan imajinasinya didalam kelas. Orang yang khusus diangkat menjadi pemrakarsa di sekolah’ atau ahli sosiologi diluar sekolah juga bisa mendorong inovasi dengan bekerja dengan administrator dan guru.


Perubahan dengan Non Model
 David Shiman dan Ann Lieberman dengan timnya melakukan pengamatan pada delapan belas sekolah selama lima tahun. Mereka melihat tahap tahap dalam perubahan disekolah dengan pola: 1) Orang membicarakan kemungkinan adanya perubahan. Harapan bertambah dan guru merasa tertekan. 2) Beberapa guru mulai melakukan sesuatu.  Mereka mencoba sendiri untuk membaca program. 3) Justifikasi terhadap aktivitas baru guru dimulai dengan pertanyaan: Mengapa saya melakukan ini? Apakah ini lebih baik dari sebelumnya? 4) Masalah inovasi baru meningkat.  5) Guru menanyakan asumsi dasar program, Apakah relevansi program ini bagi anak anak? Apakah metode mengajar saya konsisten dengan tujuan yang ingin kami capai?
Peneliti menyimpulkan bahwa inovasi tidak harus diawali tujuan, prioritas, motivasi atau evaluasi seperti yang disarankan oleh kebanyakan model.  

E.     Preskripsi untuk Perubahan Kurikulum
Paul Nachtigal melaporkan hasil proyek Ford Foundation Comprehensive School Improvement Plan dalam legitimasi konsep inovasi di sekolah dan pada testing berbagai jenis inovasi.
Inovasi akan terlaksana dengan baik jika jumlah sekolah dibatasi, tujuan dan tekniknya sedikit dan jelas.  Yang paling sukses dan permanen apabila gangguannya minimum dalam sebuah sekolah atau sedikit kelas. Faktor yang mendukung adalah keuangan dan komitmen dari penyandang dana. Pengaruh akan lebih besar jika penerapan kurikulum dilakukan diseluruh kabupaten. Kepemimpinan merupakan indicator penentu. Universitas sebagai institusi tidak memiliki kekuatan untuk memperbaiki. Makin sederhana struktur sekolah maka akan makin mudah inovasi diperkenalkan. Paling lama untuk menerapkan inovasi biasanya di pinggiran kota dan banyak proses signifikan untuk pengembangan kurikulum memerlukan input cendekiawan untuk memastikan keilmiahannya,  keahlian dalam metodologi pembelajaran, evaluasi testing yang luas dan revisi, program untuk pelatihan guru, dan diseminasi  prosedur.



F.      Generalisasi dari dukungan perubahan kurikulum sekolah
James M. Mahan  menyusun petunjuk untuk pelaksanaan perubahan kurikulum. Dari hasil pengamatannya di lebih dari enam puluh sekolah dia membuat generalisasi.
Bangun kondisi dengan menentukan guru yang terlibat bantuan dari pihak luar. Kemudian pilih kurikulum inovatif yang akan dikembangkan. Siapkan kelas untuk memperkenalkan kurikulum tersebut. Sediakan sarana  diperlukan termasuk juga dukungan dari kepala sekolah dan bantuan konsultan. Monitor kurikulum dalam kelas, apakah memberikan pengalaman belajar atau tidak. Pertahankan kurikulum hingga telah percobaan selesai apabila dianggap tepat.
Untuk menjelaskan masalah yang ada saat implementasi kurikulum hal yang diperlukan hanyalah refleksi dengan pertanyaan: Berapa jumlah kurikulum baru yang akan diterapkan dalam satu tahun? Pengaturan waktu dan staf berpengalaman yang diperlukan seharusnya seperti apa? Haruskah berorientasi pada humanistic, teknologi atau mata pelajaran? Apakah hubungan administrator dan guru diperlukan? Dengan cara apa sekolah dulunya mendukung untuk inovasi sebelumnya?

G.    Kesimpulan
Mengingat kembali isi bab ini, berbagai persoalan menjadi jelas. Satu persoalan adalah pendekatan inovatif kurikulum: sebaiknya dari sudut pandang penggunanya (guru dan siswa) atau orientasi pengembang mengacu pada produk? Pemilihan rekomendasi untuk menggunakan teknik penilaian kebutuhan, pendekatan problem-solving staf, tindakan kelas dan guru sebagai agen perubahan juga membantu pemecahan persoalan. Pemilihan manipulasi organisasi, struktur social, pendekatan system dan adopsi model R dan D disisi lain juga membantu.
Persoalan kedua adalah tentang nilai suatu teori sebagai petunjuk proses implementasi.  Beberapa orang percaya bahwa praktek didahului teori dan karenanya lebih benilai untuk memandu implementasi. Yang tidak setuju dengan pernyataan itu, yang percaya bahwa teori tidak bernilai dalam mengarahkan perhatian para praktisi, melihat variable variable dan konseptualisasi baru dari proses perubahan.
Mungkin tidak terjadinya perkembangan bila hanya menggunakan satu model disebabkan kebanyakan setting situasi implementasi kurikulum adalah spesifik.  Dalam satu tempat, lingkungan social atau kebijakan mungkin krusial mempengaruhi perubahan. Di tempat lain, dinamika kelompok atau karakter individu mungkin paling penting.  Model model perubahan yang diterima secara luas dan sejarah inovasi juga hal hal yang harus dimiliki ahli kurikulum.
Yang terakhir, kesepelean dan ketidakseriusan perubahan kurikulum dipengaruhi dari sisi dalam dan sisi luar sekolah yang akan mengingatkan  perlunya kita secara kontinyu mempertimbangkan nilai inovasi yang diusulkan.  Pembuat keputusan seharusnya yakin apakah  kurikulum yang diusulkan akan menjadi yang terbaik untuk satu kelompok pebelajar atau membantu pendidikan secara umum, berkontribusi pada tujuan tujuan interpretif atau terapan, relevan pada kehidupan siswa setelah mereka lulus dan terhubung dengan domain pengetahuan yang lain yang berikan  oleh sekolah.



PUSTAKA
McNeil, John. D. 1977. Curriculum A Comprehensive Introduction. Little Brown and Company. Boston Toronto.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar